Senin, 23 Desember 2019

PERJALANAN PEMAHAMAN.



Saya meyakini bahwa manusia tiada yang sempurna, tiada yang bisa memberikan segala sesuatu dengan sempurna dan lengkap. Bahkan segala-gala tindakan manusia tidak pernah luput dari hlal negative bahkan hal yang baik sekalipun.
Misalnya dalam pandangan seseorang, berbakti kepada orang tua adalah hal kebaikan. Namun seseorang itu kemudian memberikan seluruh uangnya pada kedua orang tuanya tanpa menyisakan sedikitpun padanya untuk hidup, untuk makan, untuk bepergian, dan bertempat tinggal. Menurut saya hal tersebut ada benar dan tidaknya.
Sisi benarnya, adalah hal tersebut memang merupakan hal yang membantu meringankan beban kedua orang tua. Sebagaiman yang dunia tahu bahwa kedua orang tua adalah manusia yang sangat berjasa bagi seorang individu, karena membawanya, menjadi perantara hadir di dunia, diinginkan atau pun tidak, karena garisan takdir.
Sisi salahnya, apabila kondisi kritis finansial seperti itu, membuat seseorang itu menjauh dari tuhan, dan malah mengejar-ngejar material yang memang dibutuhkan sisi fisik kegidupannya. Orang itu lekas lupa dan   tiada ingin kembali kepada tuhan, dengan anggapan “membantu orang tua” secara berlebihan.
Apakah masuk akal? Jelas, tapi apakah banyak orang setuju dan mengerti? Bagi beberapa orang menurut saya tidak setuju dengan konsep ini, saya yakin. Tetapi perlu diingat, bahwa tuhan pun mengemukakan untuk mendahulukan-Nya dahulu sebelum kedua orang tua. Begitulah kasusnya.
Dari perihal yang terfikirkan tersebut akan menimbulkan dua buah pelajaran yang saya sangat ingat di dalam kepala saya, dan terngiang. Kedua hal tersebut adalah prioritas dan konsep yang saya yakini, yaitu periode ilmu, begitulah saya menamainya.
Di dalam kepala saya usaha memprioritaskan menjadi salah satu hal tersulit untuk dilakukan karena seringkali diriku lebih mengutamakan keinginan melebihi prioritas itu sendiri. Mungkin benar mendahulukan prioritas, namun bukan sebuah prioritas yang dibangun berdasarkan hakikat dan kebutuhan, melainkan prioritas yang lahir saja dari keinginan dan gengsi semata. Sialnya dan sialnya, ingin sekali diriku hindari, namun seringkali gagal. Selagi saya masih ingin berusaha saya rasa tiada yang perlu disesali.
Kemudian periode pengetahuan, sejauh yang bisa saya definiskan, hal itu merupakan masa-masa kebermanfaatan ilmu secara tepat dan optimal, serta maksimal diterima, dengan kebenaran yang tepat, sehingga hal tersebut tidak akan  menyesatkan lingkungan pendengar dan lingkaran masyarakat umum. Dari definisi ini saya berfikir bahwa banyak kejadian dewasa ini, merupakan hasil dari ketidakpahaman orang-orang yang memiliki kesempatan menyampaikan isi kepalanya terhadap konsep ini. Maksudku ialah, seharusnya pendapat harusdiiringi dengan ilmu yang sempurna, luas, dan mencakup luas, sehingga suara menjadi bulat.
Ketidaksabaranku dan manusia pada umumnya, mengakibatkan distorsi yang luar biasa hebatnya, karena saya meyakini tidak semua orang terbiasa dengan hal yang disebut dengan perjalanan pemahaman. Hal yang harus dibangun dengan niat, dipenuhi nutrisinya dengan pengetahuan, dan diolah dengan pengalaman-pengalaman sulit.


Minggu, 22 Desember 2019

TERLALU PINTAR SAMPAI JADI BODOH

saya sangat tidak menyukai seseorang yang merasa sangat tahu, sehingga terlalu mudah memberikan pemdapatnya. saya khususkan untuk orang-orang yang berkomentar tentang ideologi. menurut saya letak salahnya adalah ketidakmauan untuk mempelajari dan membandingkan, terlalu nyaman, dan kenyang. orang seperti itu adalah sampah untuk lingkungan kedamaian.




Rabu, 18 Desember 2019

YO, AKU BERDAMAI DENGAN AKU.

this image is pure my imagination. 
Apakah aku kecewa? Iya tentu saja. Why? Fuck Camera Man! Kau tahu betapa karya tidak dihargai sekarang, it's only a fucking game!

Orang yang Menang Adalah Orang yang Mengetahui Kelemahan Dirinya.

Made by Me


Apakah saya mengetahui kelemahanku itu? Nampaknya saya belum tahu apa saja sebenarnya kelemahan yang saya punya. Saya juga merasakan kebingungan untuk memaksimalkan begitu banyak potensi yang di anugaerahkan kepada saya. Saya juga tidak tahu bagaimana memberikan lebih banyak kebaikan dengan potensi-potensi yang saya miliki. Saya tidak memiliki keyakinan apapun selain kepada tuhan. Bahkan pada diriku sendiripun saya tidak punya keyakinan itu. Namun, seperti yang saya katakana, setidaknya saya masih yakin kepada tuhan.
Tidak tahu selama berapa tahun saya hidup, dan membuat orang lain merasakan kematian. Saya sangant sedih ketika tidak bisa membuat kontribusi apapun dalam lingkungan kehidupanku. Tapi ketika saya membuka mata saya sadar bahwa kontribusiku sudah benar, namun walaupun demikian hal itu tidaklah cukup. Saya harus mampu berdiri sendiri, saya harus mampu bergerak dengan cepat, bertarung dengan tangkas, dan menghindar dengan anggun.
Saya ingin hidup, dengan definisi benar-benar hidup. Dengan definisi benar-benar menjadi seorang manusia. Menjadi manusia yang benar, benar-benar benar, dan benar kebenarannya, dan hidup dalam sebuah kebenran. Walaupun orang berkata bahwa kekuasaan walau segenggam pasti dapat menutupi sekeranjang kebenaran. Saya sadar dan mengsayai bahwa saya adalah orang yang lemah, dan orang yang hidup tapi mati, bagaikan benalu yang hanya bisa menghisap inangnya.
Saya punya seorang guru, kemudian beliau berkata kepadsaya suatu hari, setelah kami selesai belajar. Beliau berkata bahwa semua rencana-rencana yang sudah dipunya, tidak boleh hanya di simpan saja di kepala, namun juga harus dilaksanankan, di lsayakan bagaimanapun juga. Kemudian salah seorang pengusaha besar di Indonesia juga pernah berkata bahwa, manusia harus menghilangkans egala ketsayatannya bila ingin maju ke tahap berikutnya dalam hidup.  Sayapun menyadari bahwa sebenarnya yang saya rasakan selama ini adalah tsayat, saya memelihara ketsayatan sebagai anjing, yang akhirnya memangssaya sendiri sehingga saya lemah dan lembek, bagaiakan timun rebus.
Saya sangat malu pada diriku sendiri, saya sangat malu pada pemikiranku, saya sangat malu pada semua buku yang telah ku baca uyang hanya menumpuk didalam kepala dan menjad tumpukan ilmu yang tiada pernah saya laksanakan.
Sekali lagi saya hanya yakin kepada tuhan, bahkan tidak pada diri saya. Oleh karena itu saya memiliki harapan terakhir yang saya ingin ungkapkan padanya. Wahai tuhan yang paling tahu, paling mengasihani, dan paling mulia, sengguh saya mengetahui saya adalah orang yang tiada berguna dan orang yang hina, jadi saya mohon dengan sangat engkau berikan dalam waktu hidup saya yang singkat ini, berkah dan kebermanfaatan yangbisa membuat orang lain bahagia, dan megikuti jalan yang telah engkau buatkan untuk manusia.



PERKEMBANGAN PENYAKIT GEN PADA MANUSIA

Akhirnya setelah sekian lama (hampir 3 tahun penuh) tidak menelurkan tulisan yang di publikasikan pada blog ini, saya kembali datang ke sin...