Saya
meyakini bahwa manusia tiada yang sempurna, tiada yang bisa memberikan segala
sesuatu dengan sempurna dan lengkap. Bahkan segala-gala tindakan manusia tidak
pernah luput dari hlal negative bahkan hal yang baik sekalipun.
Misalnya
dalam pandangan seseorang, berbakti kepada orang tua adalah hal kebaikan. Namun
seseorang itu kemudian memberikan seluruh uangnya pada kedua orang tuanya tanpa
menyisakan sedikitpun padanya untuk hidup, untuk makan, untuk bepergian, dan
bertempat tinggal. Menurut saya hal tersebut ada benar dan tidaknya.
Sisi
benarnya, adalah hal tersebut memang merupakan hal yang membantu meringankan
beban kedua orang tua. Sebagaiman yang dunia tahu bahwa kedua orang tua adalah
manusia yang sangat berjasa bagi seorang individu, karena membawanya, menjadi
perantara hadir di dunia, diinginkan atau pun tidak, karena garisan takdir.
Sisi
salahnya, apabila kondisi kritis finansial seperti itu, membuat seseorang itu
menjauh dari tuhan, dan malah mengejar-ngejar material yang memang dibutuhkan
sisi fisik kegidupannya. Orang itu lekas lupa dan tiada ingin kembali kepada tuhan, dengan
anggapan “membantu orang tua” secara berlebihan.
Apakah
masuk akal? Jelas, tapi apakah banyak orang setuju dan mengerti? Bagi beberapa
orang menurut saya tidak setuju dengan konsep ini, saya yakin. Tetapi perlu
diingat, bahwa tuhan pun mengemukakan untuk mendahulukan-Nya dahulu sebelum
kedua orang tua. Begitulah kasusnya.
Dari
perihal yang terfikirkan tersebut akan menimbulkan dua buah pelajaran yang saya
sangat ingat di dalam kepala saya, dan terngiang. Kedua hal tersebut adalah
prioritas dan konsep yang saya yakini, yaitu periode ilmu, begitulah saya
menamainya.
Di
dalam kepala saya usaha memprioritaskan menjadi salah satu hal tersulit untuk
dilakukan karena seringkali diriku lebih mengutamakan keinginan melebihi
prioritas itu sendiri. Mungkin benar mendahulukan prioritas, namun bukan sebuah
prioritas yang dibangun berdasarkan hakikat dan kebutuhan, melainkan prioritas
yang lahir saja dari keinginan dan gengsi semata. Sialnya dan sialnya, ingin
sekali diriku hindari, namun seringkali gagal. Selagi saya masih ingin berusaha
saya rasa tiada yang perlu disesali.
Kemudian
periode pengetahuan, sejauh yang bisa saya definiskan, hal itu merupakan
masa-masa kebermanfaatan ilmu secara tepat dan optimal, serta maksimal diterima,
dengan kebenaran yang tepat, sehingga hal tersebut tidak akan menyesatkan lingkungan pendengar dan lingkaran
masyarakat umum. Dari definisi ini saya berfikir bahwa banyak kejadian dewasa
ini, merupakan hasil dari ketidakpahaman orang-orang yang memiliki kesempatan menyampaikan
isi kepalanya terhadap konsep ini. Maksudku ialah, seharusnya pendapat
harusdiiringi dengan ilmu yang sempurna, luas, dan mencakup luas, sehingga
suara menjadi bulat.
Ketidaksabaranku
dan manusia pada umumnya, mengakibatkan distorsi yang luar biasa hebatnya,
karena saya meyakini tidak semua orang terbiasa dengan hal yang disebut dengan
perjalanan pemahaman. Hal yang harus dibangun dengan niat, dipenuhi nutrisinya
dengan pengetahuan, dan diolah dengan pengalaman-pengalaman sulit.




